‘Orang-orang Aneh’ di HUT RI yang ke-63
Jelang siang nan asri. Menyikap tabir gemerlap islami dunia pesantren. Menyeka relung-relung dunia kitab kuning. Menjadikan khidmahnya acara pembukaan ‘Karnaval akbar’ yang di buka langsung secara simbolis oleh Ustadz H. Zainul Arifin. Acara yang diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun republik Indonesia itu di mulai sekitar pukul 13.00. Seluruh santri mulai dari Tsanawiyah sampai Mahasiswa di wajibkan untuk ikut serta dalam even ini. Setiap kamar wajib mengeluarkan minimal tiga orang dari anggota kamarnya untuk mengenakan pakaian adat setiap daerah yang mana sebelumnya telah di adakan pengundian penentuan pakaian tradisional yang akan di kenakan.
Layaknya dalam kompetisi, acara, karnaval ini juga sebagai ajang kreatifitas para santri. Mana-mana kamar yang paling kreatif dalam berpakaian adat maka akan mendapatkan nilai yang tinggi. Maka dari itu tak heran banyak santri-santri yang mengenakan pakaian-pakaian yang tak lazim untuk di kenakan sehingga terkesan ‘Aneh’ menurut kebanyakan orang, dikatakan aneh karena mereka rela menjadi apa pun, dalam artian mengenakan busana apa saja asalkan sopan. Sampai-sampai ada yang rela wajahnya dicoret-coret, berakting di sepanjang rute perjalanan dll. Pakaian adat yang dikenakan oleh peserta bermacam-macam, misalnya Pakaian adat khas Irian Jaya, Jawa Timur, Sumatra Barat dan lain-lain. Rute perjalannya pun cukup melelahkan badan yakni dimulai dari halaman MBS kemudian desa pongangan, GKB dan garis finish kembali di pondok. Pada malam harinya diadakan nonton bersama di halaman pondok sekaligus pengundian kupon berhadiah
|