3 Amalan yang Selamatkan Pemabuk
Oleh: Usman Hasib
Alkisah, seorang laki-laki bejat meninggal di satu sudut kota Bashrah. Istrinya
bingung tidak ada seorang pun yang mau membantu membawakan jenazah suaminya.
Para tetangganya tak tahu-menahu atas urusan itu. Karena perbuatan buruk suaminya
yang begitu menumpuk.
Ia pun menyewa orang untuk memikul jasad mati tersebut dan membawanya ke mushalla,
tapi sungguh malang nasibnya. Tak ada yang mau melakukan shalat jenazah untuknya.
Mayat itu lalu digiring ke gurun pasir yang rupa-rupanya mau dikebumikan saja.
Sang istri hanya bisa berpangku tangan meratapi nasib.
Sesampainya di gurun pasir, matanya tertambat pada sosok lelaki yang bila dilihat
dari gerak-geriknya, sedang menunggu sesuatu. Kemujuran berpihak padanya. Lelaki
gurun tersebut memang sedang mengharapkan kedatangan mereka berdua. Lelaki yang
ternyata seorang pertapa (zuhud) itu mau menyolati jasad pemabuk yang berada
di hadapannya.
Kabar ini begitu menggemparkan penduduk desa. Dengan berbondong-bondong mereka
lantas mendatangi tempat itu untuk turut melakukakan shalat jenazah. Namun mereka
masih bertanya-tanya. Mengapa seorang zuhud rela turun gunung hanya demi seorang
yang terkenal sebagi pecandu khamer?
Untuk menenangkan rasa penasaran penduduk, pertapa itu berkata: “Suatu
malam aku bermimpi diperintahkan turun gunung ke tempat di mana jenazah ini
dan istrinya berada. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosanya”.
Mendengar penuturan pertapa itu para penduduk tidak paham sekaligus bingung
dan semakin bertanya-tanya.
Dia pun lantas memanggil perempuan yang ditinggal suaminya itu. Dan menanyakan
amal apa yang membuat suaminya bernasib mujur. Spontan dia menjawab: “Seperti
yang kalian ketahui suamiku tidak lain adalah seorang pemabuk berat dan senang
nongkrong di rumah bordil”. Dia terus mendesak: coba ingat-ingat! Kiranya
amal apa yang pernah dilakukan suamimu”. Ia mencoba memutar memori.
Dan tak lama, “Ya, aku ingat ada tiga amal baik yang sempat dilakukannya
semasa hidup. Pertama, setiap subuh saat bangun dari mabuk, dia berganti pakaian
lalu berwudlu dan shalat berjamaah. Kemudian dia berangkat ke rumah bordil untuk
melakukan perbuatan bejatnya. Kedua, di rumah kami pasti ada satu atau dua anak
yatim. Suamiku amat menyayangi mereka sampai melebihi rasa kasih sayangnya terhadap
anaknya sendiri. Bahkan dia begitu merasa kehilangan terhadap anak-anak yatim
itu. Ketiga, di tengah gulita malam tatkala dia sadar dari mabuk, dia menangis
menyesali kelakuan buruknya. Seraya meratap: “wahai Tuhan! Di sudut Jahanam
manakah Engkau jebloskan diri pendosa ini?” Setelah menyimak kisah perempuan
itu semua orang mengangguk-angguk paham. Ternyata dibalik tirai hitam perbuatan
sipemabuk ada tiga “mutiara amal” yang tersimpan.
--------------------------------------------------
Dikirim oleh : Seng Mbau Rekso
17 May 2006, 4:18 pm
|